loading...
SUNNAH MEMANDIKAN JENAZAH DENGAN DAUN
BIDARA
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Banyak
dari kita belum mengetahui akan hal ini, memandikan jenazah dengan campuran
daun bidara. Ketika ada yang meninggal terbiasa memandikannya dengan daun kelor
atau panglai (pasundan/sunda) atau Mungle
(Aceh), Bungle (Tapanuli), Kunik Bolai (Rana Minang), Banglee’iy (Rejang) atau lainnya.
Namun
taukah anda, jika ada tanaman yang disunahkan jika ada orang yang meninggal untuk
memandikannya dengan daun dari tanaman tersebut.
tentunya kita meyakini bahwa
apa yang disunahkan oleh Nabi kita Muhammad SAW, pasti banyak mengandung
kebaikan, baik yang sudah dibuktikan secara ilmiah maupun yang belum terbukti. Baiklah langsung saja saya
akan mengutip beberapa hadits dan ayat Al-Quran, yang didalamnya disebutkan
daun atau pohon bidara.
1. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa ‘ ala
alihi wa sallam juga bersabda,
“Kami pernah
keluar bersama Nabi shallallahu ‘ alaihi wa ‘ ala alihi wa
sallam ke Hunain dan ketika itu, kami baru saja meninggalkan kekafiran, dan
orang-orang musyrikin memiliki pohon bidara yang mereka i’tikaf di sekitar
pohon itu dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang pohon tersebut
disebut (dinamakan) Dzatu Anwath. Kami melewati pohon tersebut kemudian
berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzata Anwath sebagaimana mereka
mempunyai Dzatu Anwath.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa ‘ ala
alihi wa sallam bertakbir -dalam riwayat yang lain bertasbih-, ‘Sungguh
benar-benar kalian akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian
sebagaimana permintaan Bani Israil kepada Musa, Dan Kami seberangkan Bani
Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum
yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata:(?) ‘Buatlah
untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa
sesembahan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang
jahil.’.’.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan
At-Tirmidzy. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Zhilalul
Jannah no. 76)
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
“Dan Rabbmu
agungkanlah,dan pakaianmu bersihkanlah,dan perbuatan dosa (menyembah berhala)
tinggalkanlah.” [Al-Muddatstsir: 3-5 ]
BACA JUGA : CARA MENGGUNAKAN DAUN BIDARA UNTUK GANGGUAN JIN
1.
Hadits Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim tentang kisah Tsumamah bin Utsal radhiyallahu ‘anhu yang sengaja
mandi[2] kemudian menghadap kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa
sallam untuk masuk Islam. b. Hadits Qois bin A’shim radhiyallahu ‘anhu :
أَتَيْتُ النَّبِيَّ
صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أُرِيْدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِيْ
أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ
“Saya mendatangi Nabi
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam maka Nabi
memerintahkan kepadaku untuk mandi dengan air dan daun bidara”. (HR. Ahmad
5/61, Abu Daud no. 355, An-Nasa`i 1/91, At-Tirmidzy no. 605 dan dishohihkan
oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/187).
2.
Hadits Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhuma tentang orang yang jatuh dari ontanya dan meninggal, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ
وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فِي ثَوْبَيْنِ.
“Mandikanlah dia
dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan dua baju”. (HR.
Bukhary-Muslim).
3.
Hadits Ummu ‘Athiyah
tatkala anak Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam meninggal, beliau bersabda :
اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا
أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ أَكْثَرَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ
وَسِدْرٍ
“Mandikanlah dia tiga
kali atau lima atau tujuh atau lebih jika kalian melihatnya dengan air dan daun
bidara”. (HR. Bukhary-Muslim).
1.
hadits ‘Aisyah
bahwasanya Asma` bintu Syakal bertanya
kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang mandi Haid,
maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menjawab :
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ
مَاءَهَا وَسِدْرَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى
رَأْسِهَا فَتُدْلِكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَى يَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا
ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً
فَتَطَهَّرُ بِهَا. فَقَالَتْ أَسْمَاءُ : وَكَيْفَ
أَتَطَهَّرُ بِهَا ؟ فَقَالَ : سُبْحَانَ الله تَطَهَّرِيْنَ بِهَا. فَقَالَتْ عَائِشَةُ : كَأَنَّهَا تَخْفَى ذَلِكَ تَتَبَّعِيْنَ أَثَرَ الدَّمِ.
أَتَطَهَّرُ بِهَا ؟ فَقَالَ : سُبْحَانَ الله تَطَهَّرِيْنَ بِهَا. فَقَالَتْ عَائِشَةُ : كَأَنَّهَا تَخْفَى ذَلِكَ تَتَبَّعِيْنَ أَثَرَ الدَّمِ.
“Hendaklah salah
seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara kemudian bersuci dengan
sempurna kemudian menyiram kepalanya dan menyela-nyelanya dengan keras sampai
ke dasar rambutnya kemudian menyiram kepalanya dengan air. Kemudian mengambil
sepotong kain (atau yang semisalnya-pent.) yang telah diberi wangi-wangian
kemudian dia bersuci dengannya. Kemudian Asma` bertanya lagi : “Bagaimana saya
bersuci dengannya?”. Nabi menjawab : “Subhanallah, bersuci dengannya”. Kata
‘Aisyah : “Seakan-akan Asma` tidak paham dengan yang demikian, maka ikutilah
(cucilah) bekas-bekas darah (kemaluan)”. (HSR. Muslim)
2.
Hadits Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu yang
diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim tentang kisah Tsumamah bin Utsal radhiyallahu
‘anhu yang sengaja mandi[2] kemudian menghadap kepada Nabi shollallahu ‘alaihi
wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam. b. Hadits Qois bin A’shim
radhiyallahu ‘anhu :
أَتَيْتُ النَّبِيَّ
صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أُرِيْدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِيْ
أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ
“Saya mendatangi Nabi
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam maka Nabi
memerintahkan kepadaku untuk mandi dengan air dan daun bidara”. (HR. Ahmad
5/61, Abu Daud no. 355, An-Nasa`i 1/91, At-Tirmidzy no. 605 dan dishohihkan
oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/187).
Kitab Jenazah
Bab Ke-9:
Disunnahkan Memandikan dengan Hitungan Ganjil
Ummu Athiyah r.a.
(seorang wanita Anshar yang turut berbai’at, yang datang ke Bashrah untuk
mencari anak nya, tetapi tidak menemukannya 2/74) berkata, “Rasulullah masuk
kepada kami ketika kami sedang memandikan putri beliau seraya bersabda,
‘Mandikanlah dengan siraman yang ganjil, yaitu tiga kali, lima kali (tujuh
kali), atau lebih banyak dari itu-jika kamu memandang perlu-dengan menggunakan
air dan daun
bidara. Berilah kapur barus di akhir kalinya.’ Beliau bersabda
kepada kami ketika kami hendak memandikannya, ‘Mulailah dengan anggota badan
bagian kanan dan anggota-anggota wudhunya. Jika telah selesai, maka
beritahukanlah aku.’ Ketika kami telah selesai, kami memberi tahu beliau. Lalu,
beliau memberikan sarung beliau kepada kami seraya bersabda, ‘Pakaikanlah
(sarung ini) kepada nya.’ (Dan beliau tidak menambah dari itu, dan aku tidak
mengetahui putri beliau yang mana dia itu). Kami sisir dia (dan dalam satu riwayat:
lalu kami ikat rambutnya) tiga ikatan. (Dan dalam satu riwayat: Ummu Athiyah
berkata, ‘Mereka uraikan rambutnya, kemudian mereka mandikan, lalu mereka ikat
menjadi tiga.) (Sufyan berkata, ‘Pada dua ubun-ubunnya dan dua tanduknya.’
2/75). Lalu, kami letakkan rambutnya ke belakang.” (Dan Ayyub memperkirakan
agar memakaikan pakaian beliau kepadanya. Begitulah Ibnu Sirin memerintahkan
agar mayat wanita dikenakan padanya pakaian dan tidak dipakaikan sarung
padanya).
Bab Ke-20:
Memberikan Harum-haruman kepada Mayat
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu
‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Mengenai orang yang terjatuh dari kendaraannya kemudian meninggal, mandikanlah
ia dengan air dan daun bidara, dan kafankanlah dengan dua lapis kainnya.”
Muttafaq Alaihi. 4:yakni dengan kedua pakaian ihramnya. Saat itu ia sedang
wuquf di Arafah pada haji wada’. Kelanjutan sabda beliau adalah: Janganlah kamu
membalsamnya dan jangan menutupi kepalanya, karena sesungguhnya Allah akan
membangkitkannya pada hari kiamat sebagai orang yang bertalbiyah).
Didalam
Al-Quran pohon bidara disebutkan di beberapa ayat:
56. AL WAAQI’AH (HARI KIAMAT) ayat 28
berada di antara pohon bidara yang tak berduri,
34. SABA‘ (NEGERI SABA)
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang
besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi
(pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr /
bidara
Demikian kutipan – kutipan Al-Quran, Hadist
tentang daun bidara & cara penggunaan untuk memandikan jenazah. Jika ada
kesalahan dalam penulisan kutipan Al-Quran & Hadist mohon dapat dikoreksi. Mohon
maaf apabila ada kelasahan dalam penulisan maupun kutipan. Semoga bermanfaat
Barakallah Fiikum
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Barakallah Fiikum
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



No comments:
Post a Comment