loading...

Sunday, December 31, 2017

Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi

loading...
ﻪﺒﺸﺘﻟﺍ TASYABBUH (PENYERUPAAN) DALAM PERAYAAN TAHUN BARU



1. Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu

tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400)

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada


Baca Juga : Gelang kaki ada lonceng dilarang?


bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM,
dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Sesungguhnya nikmat yang paling besar yang dianugrahkan oleh Allah kepada para hambaNya adalah nikmat Islam dan hidayah kepada jalanNya yang lurus. Di antara rahmatNya pula, Allah Ta’ala mewajibkan kepada para hambaNya, kaum Mukminin, agar memohon hidayahNya di dalam shalat-shalat mereka. Mereka memohon kepadaNya agar mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan mantap di atasnya. Dalam hal ini, Allah Ta’ala telah memberikan spesifikasi jalan (shirath) ini sebagai jalan para Nabi, Ash-Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shalih yang Dia anugrahkan nikmatNya kepada mereka. Jadi, bukan jalan orang-orang yahudi, nashrani dan seluruh orang-orang kafir dan musyrik yang menyimpang darinya.


Bila hal ini sudah diketahui, maka adalah wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal kadar nikmat Allah kepadanya sehingga dengan itu, dia mau bersyukur kepadaNya melalui ucapan, perbuatan dan keyakinan. Dalam pada itu, dia juga akan menjaga nikmat ini dan membentenginya serta melakukan sebab-sebab yang dapat menjaga hilangnnya nikmat tersebut.

Bagi orang yang diberikan bashiroh (pemahaman mendalam) terhadap Dienullah di saat kondisi dunia dewasa ini yang diselimuti oleh





2. Pencampuradukan antara al-haq dan kebatilan pada kebanyakan orang, dia akan mengetahui dengan jelas upaya keras yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghapus kebenarannya dan memadamkan cahayanya, upaya menjauhkan kaum Muslimin darinya serta memutuskan kontak mereka dengannya melalui berbagai sarana yang memungkinkan. Belum lagi, upaya memperburuk citra Islam dan melabelkan tuduhan dan kebohongan-kebohongan terhadapnya guna menghadang seluruh manusia dari jalan Allah dan dari beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad bin Abdullah. Pembenaran statement ini dibuktikan oleh firman-firman Allah Ta’ala.

“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran”

[Al-Baqarah/2 : 109]

“Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya”

[Ali-Imran/3 : 69]

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi”

[Ali-Imran/3 : 149]

“Katakanlah, Hai ahli kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan, “Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan”

[Ali Imran/3 : 99]

Dan ayat-ayat lainnya. Akan tetapi meskipun demikian, Allah Ta’ala telah berjanji untuk mejaga dienNya dan kitabNya, dalam firmanNya.

“ Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [Al-Hijr’/15 : 9]

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa akan selalu muncul suatu golongan dari umatnya yang berjalan di atas al-haq, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka ataupun menentang mereka hingga terjadi hari Kiamat. Segala puji bagi Allah pujian yang banyak dan kita memohon kepadaNya Yang Maha Dekat dan Mengabulkan Permohonan agar menjadikan kita dan saudara-saudara kita kaum Muslimin termasuk dari golongan tersebut, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.


Di antara hal itu adalah propaganda kepada penyatuan agama-agama (pluralisme), penyamaan Islam dengan





3. Aliran-aliran dan sekte-sekte sesat lainnya, penyucian terhadap salib dan penampakan syi’ar-syi’ar kekufuran yang dilakukan oleh orang-orang nashrani dan yahudi serta perbuatan-pebuatan dan ucapan-ucapan semisal itu yang mengandung beberapa hal ; bisa jadi, pernyataan bahwa syari’at nashrani dan yahudi yang sudah diganti dan dihapus tersebut dapat menyampaikan kepada Allah. Bisa jadi pula, berupa anggapan baik terhadap sebagian dari ajaran kedua agama tersebut yang bertentangan dengan dien al-Islam. Atau hal selain itu yang merupakan bentuk kekufuran kepada Allah dan RasulNya, kepada Islam dan ijma’ umat ini. Belum lagi, hal itu adalah sebagai salah satu sarana westernisasi kaum Muslimin dari ajaran-ajaran agama mereka.


Banyak sekali dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan atsar-atsar yang shahih yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka. Di antara hal itu adalah menyerupai mereka dalam perayaan hari-hari besar dan pesta-pesta mereka. Hari besar (‘Ied) maknanya (secara terminologis) adalah sebutan bagi sesuatu, termasuk didalamnya setiap hari yang datang kembali dan terulang, yang diagung-agungkan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan. Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan


di tempat-tempat atau waktu-waktu seperti ini maka itu termasuk hari besar (‘Ied) mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya terhadap hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat yang

mereka agungkan yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam dien Islam, demikian pula, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya juga termasuk ke dalam hal itu.
Ditambah lagi dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya yang nilai religiusnya bagi mereka sama saja sebagaimana yang disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firmanNya.

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu”
[Al-Furqan/25 : 72]

Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Sekelompok Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “Az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir. Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar (‘Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, “Dua hari untuk apa ini ?”. Mereka menjawab, “Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah”.

Lantas beliau bersabda.

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Iedul Adha dan Iedul Fithri” [1]


4. Demikian pula terdapat hadits yang shahih dari Tsabit bin Adl-Dlahhak Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya
dia berkata, “Seorang laki-laki telah bernadzar pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sembari berkata.


“Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari berhala-berhala Jahiliyyah yang disembah ? Mereka menjawab, ‘Tidak’. Beliau bertanya lagi. ‘Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari hari-hari besar mereka ?’. Mereka menjawab, ‘Tidak’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tepatilah nadzarmu karena tidak perlu menepati nadzar di dalam berbuat maksiat kepada Allah dan di dalam hal yang tidak dipunyai (tidak mampu dilakukan) oleh manusia” [2]

Umar bin Al-Khaththtab Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka” [3]


Dia berkata lagi, “Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka” [4]

Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Barangsiapa yang berdiam di negeri-

negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festifal seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka” [5]

Merayakan hari-hari besar orang-orang kafir juga dilarang karena alasan-alasan yang banyak sekali, di antaranya :

Menyerupai mereka dalam sebagian hari besar mereka mengandung konsekwensi bergembira dan membuat mereka berlapang dada terhadap kebatilan yang sedang mereka lakukan.

Menyerupai mereka dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat lahiriah akan mengandung konsekwensi menyerupai mereka pula dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat batiniah yang berupa ‘aqidah-aqidah batil melalui cara mencuri-curi dan bertahap lagi tersembunyi.


Dampak negatif yang paling besar dari hal itu adalah menyerupai orang-orang kafir secara lahiriah akan menimbulkan sejenis kecintaan dan kesukaan serta loyalitas secara batin. Mencintai dan loyal terhadap mereka menafikan keimanan sebagaimana firman Allah Ta’ala.


“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu) ; sebagaimana mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka


5. Menjadi pemimpin ; maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” [Al-Maidah/5 : 51]

Dan firmanNya.

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih saying dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya”

[Al-Mujadillah/58 : 22]

Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan di atas, maka tidak boleh hukumnya seorang Muslim yang beriman kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, mengadakan perayaan-perayaan hari-hari besar yang tidak ada landasannya dalam dien Islam, termasuk diantaranya pesta (Tahun Baru) Milenium rekaan tersebut. Juga, tidak boleh hadir pada acaranya, berpartisipasi dan membantu dalam pelaksanaannya dalam bentuk apapun karena hal itu termasuk dosa dan melampaui aturan-aturan Allah sedangkan Allah sendiri terlah berfirman.

“Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya” [Al-Maidah/5: 2]

Seorang Muslim tidak boleh saling tolong menolong dengan orang-orang kafir dalam bentuk apapun dalam hari-hari besar mereka. Di antara hal itu adalah mempromosikan dan

mengumumkan hari-hari besar mereka, termasuk pesta (Tahun Baru) rekaan tersebut. Demikian pula, mengajak pada hal itu dengan sarana apapun baik melalui mass media, memasang jam-jam dan pamflet-pamflet bertuliskan angka, membuat pakaian-pakaian dan plakat-plakat kenangan, mencetak kartu-kartu dan buku-buku tulis sekolah, memberikan diskon khusus pada dagangan dan hadiah-hadiah uang dalam rangka itu, kegiatan-kegiatan olah raga ataupun menyebarkan symbol khusus untuk hal itu.

Seorang Muslim tidak boleh menganggap hari-hari besar orang-orang kafir, termasuk pesta rekaan tersebut sebagai momentum-momentum yang membahagiakan atau waktu-waktu yang diberkahi sehingga karenanya meliburkan pekerjaan, menjalin ikatan perkawinan, memulai aktifitas bisnis, membuka proyek-proyek baru dan lain sebagainya. Tidak boleh dia meyakini bahwa hari-hari seperti itu memiliki keistimewaan yang tidak ada pada hari selainnya karena hari-hari tersebut sama saja dengan hari-hari biasa lainnya, dan karena hal ini merupakan keyakinan yang rusak yang tidak dapat merubah hakikat sesuatu bahkan keyakinan seperti ini adalah dosa di atas dosa, kita memohon kepada Allah agar diselamatkan di terbebas dari hal itu.


Seorang Muslim tidak boleh mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar orang-orang kafir karena hal itu merupakan bentuk kerelaan terhadap kebatilan yang tengah mereka lakukan dan membuat mereka bergembira, karenanya Ibnu Al-Qayyim berkata ” Adapun mengucapkan selamat terhadap syi’ar-syi’ar keagamaan orang-orang kafir

6. Yang khusus bagi mereka, maka haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat dalam rangka hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan ‘Semoga hari besar ini diberkahi’ atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut.

Dalam hal ini, kalaupun pengucapnya lolos dari kekufuran akan tetapi dia tidak akan lolos dari melakukan hal yang diharamkan. Hal ini sama posisinya dengan bilamana dia mengucpkan selamat karena dia (orang kafir) itu sujud terhadap salib. Bahkan, dosa dan kemurkaan terhafap hal itu lebih besar dari sisi Allah ketimbang mengucapkan selamat atas minum khamr, membunuh jiwa yang tidak berdosa, berzina dan semisalnya. Banyak sekali orang yang tidak memiliki sedikitpun kadar dien pada dirinya terjerumus ke dalam hal itu dan dia tidak menyadari jeleknya perbuatannya. Maka, siapa saja yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena suatu maksiat, bid’ah atau kekufuran yang dilakukannya, berarti dia telah mendapatkan kemurkaan dan kemarahan Allah SWT.


Adalah suatu kehormatan bagi kaum Muslimin untuk berkomitmen terhadap sejarah hijrah Nabi mereka, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang disepakati pula orang para sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara ijma’ dan mereka jadikan kalender tanpa perayaan apapun. Hal itu kemudian diteruskan secara turun temurun oleh kaum Muslimin yang datang setelah mereka, sejak 14 abad yang lalu hingga saat ini. Karenaya seorang Muslim tidak boleh mengalihkan penggunaan kalender Hijriah kepada

kelender umat-umat selainnya, seperti kalender Masehi ini ; karena termasuk perbuatan menggantikan yang lebih baik dengan yang lebih jelek. Dari itu kami wasiatkan kepada seluruh saudara-saudara kami, kaum Muslimin, agar bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-sebenar takwa, berbuat ta’at dan menjauhi kemaksiatan terhadapNya serta saling berwasiat dengan hal itu dan sabar atasnya.

Hendaknya setiap Mukmin yang menjadi penasehat bagi dirinya dan antusias terhadap keselamatannya dari murka Allah dan laknatNya di dunia dan Akhirat berusaha keras di dalam merealisasikan ilmu dan iman, menjadikan Allah semata sebagai Pemberi petunjuk, Penolong, Hakim dan Pelindung, karena sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Cukuplah Rabbmu sebagai Pemberi Petunjuk dan Penolong serta berdo’alah selalu dengan do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.


” Ya, Allah, Rabb Jibril, Mikail, Israfil. Pencipta lelangit dan bumi. Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib dan nyata. Engkau memutuskan hal yang diperselisihkan di antara para hambaMu, berilah petunjuk kepadaku terhadap kebenaran yang diperselisihkan dengan idzinMu, sesungguhnya Engkau menunjuki orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus” [6]


Segala puji bagi Allah, Rabb Semesta Alam. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad Wa ‘ala Alihi Wa Shahbihi Ajmain.





Footnote
[1]. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Dari Umar Radhiyallahu anhu, Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210. Sunan Abu Daud,
Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam kitab Ash-Shalah No. 1134, Sunan An-Nasa’i, Kitab
bersabda, Shalah Al-Iedain, No. 1556 dengan sanad yang shahih. “Aku diutus dengan pedang menjelang hari

[2]. Dikeluarkan oleh Abu Daud, Kitab Al-Aiman Wakiamat hingga mereka menyembah Allah Ta’ala
An-Nadzar, No. 3313 denan sanad shahih. semata dan tidak mempersekutukanNya dengan
sesuatupun, dan telah dijadikan rizkiku di

[3]. Dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqy No. 18640
bawah bayangan tombakku, dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa yang menyelisihi

[4]. Ibid No. 18641
perkaraku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka”

[5].‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh
hadits no. 3512
(HR Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani)
Dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya, Kitab Shalah Al-Musafirin, No. 770




Sumber : Dari Saudara Muslim
                 (13 Rabi ul-akhir,1439)














Friday, December 29, 2017

Gelang Kaki (Ada Lonceng) Di Larang Bagi Wanita Muslim

loading...





Bismillah.


Assalamualaikum Wr. Wb.

Pemakaian gelang kaki Pada Wanita sudah tidak aneh lagi, apalagi gelang kaki yang ada lonceng. Entah bertujuan apa pemakaian lonceng pada gelang kaki itu, apakah bertujuan agar menarik perhatian??...
setiap muslim & muslimah hendaklah menjaga juga tata pergaulan & pemakaian hal-hal yang dimana dapat menarik perhatian lawan jenis yang bukan mahramnya, karna haramlah hukumnya. Memang memakai gelang kaki pada wanita muslim tidaklah ada larangan, asalkan tidak ada lonceng yang menggantung pada gelang kaki itu, kenapa?

diriwayatkan dalam hadist dibawah ini :

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Malaikat tidak akan mengawani sekelompok orang-orang yang bepergian yang di kalangan mereka itu ada anjing atau loncengnya - belnya." (Riwayat Muslim 2113)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Lonceng - yakni bel - itu adalah termasuk golongan seruling serulingnya syaitan." (HR. Abu Dawud)

Baca Juga : Uban Cahaya Umat Muslim

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Lonceng dikatakan sebab larinya malaikat karena ia menyerupai gong (kentongan) atau karena ia termasuk gantungan yang dilarang, atau sebab dimakruhkannya karena suaranya, ha ini dikuatkan oleh riwayat, “Seruling setan.’ Sebab dimakruhkan suaranya karena mengandung suara merdu seperti musik yang dilarang.”

Al-Hafiz Ibnu Hajaar rahimahullah mengatakan, “Kesimpulannya bahwa suara mempunyai dua sisi. Sisi kekuatan dan sisi dentingnya. Dari dari sisi musiknya, maka menjadi sebab menjauhnya (malaikat) darinya karena dia seruling setan.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Beliau mengabarkan bahwa malaikat tidak menemani seseorang yang membawa lonceng. Karena waktu berjalannya hewan diiringi suara dan itu bagian dari nyanyian dan musik. Dan telah diketahui bahwa musik adalah haram.” (Syarh Riyadus Solihin, 4/340)

Adapun jam beker dan semisalnya, kalau mengandung suara musik maka ia haram, berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan haramnya musik. Kalau Cuma sekedar suara jam biasa, maka tidak apa-apa.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Adapun dalam jam beker dan semisalnya, maka tidak masuk dalam larangan.”

Begitu juga yang ada dalam pintu untuk meminta izinnya. Karena sebagian pintu ada bel untuk meminta izin. Ini juga tidak mengapa. Tidak masuk dalam larangan. Karena ia tidak digantungkan di hewan dan semisalnya. Tidak ada suara merdu yang ada larangan dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam.” (Syarh Riyadus Solihin, 4/340-341).

Lajnah Daimah ditanya, “Apa jenis bel yang diharamkan? Perlu diketahui ada bel listrik yang mengeluarkan suara burung, bel jam lain (suara) mengetuk besi dan macam-macam lainnya?”

Mereka menjawab, “Bel yang digunakan di rumah dan di sekolah dan semisalnya dibolehkan, selagi tidak mengandung yang diharamkan. Misalnya menyerupai gong (kentongan) orang Kristen, atau ada suara seperti musik, maka kalau ada seperti itu, diharamkan.” (Fatawa Lajnah Daimah, 26/284).


Wallahu a’lam .

sumber : https://islamqa.info/id/96588

Monday, December 18, 2017

Dajjal Lahir ke Dunia...

loading...

Bismillah...
Belakangan ini banyak berita-berita beredarnya foto, video bayi yang lahir dengan bermata satu, banyak yang mengklaim bahwa itu adalah bayi dajjal, apakah benar?...
baik marilah kita simak bersama
Menurut kisah"  yg sahih dilihat dari silsilah Kita lihat dulu dari atas tanda datangnya hari kiamat

Al-Dajjal
Dajjal ialah makhluk yang sangat besar, tinggi bahkan saking tingginya ada yang mengatakan bahwa makhluk ini sampai menjulang ke langit. Mempunyai mata satu dan dalam keningnya ada tulisan kafir dengan menggunakan bahasa Arab dan akan muncul ketika hari Kiamat, seperti sabda Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

“‘Apa yang kalian perbincangkan?’ Kami menjawab: ‘Kami sedang berbincang-bincang tentang hari Kiamat.’ Beliau berkata: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian lihat sebelumnya sepuluh tanda.’ Beliau menyebutkan: ‘Dukhan (asap), Dajjal, Daabbah, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa Alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, dan tiga khusuf (dibenamkan ke dalam bumi) di timur, di barat dan di jazirah Arab, yang terkahir adalah api yang keluar dari Yaman mengusir (mengiring) mereka ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. 2901)


Silsilah Keluarga Dajjal

Ibu dan ayah Dajjal adalah penyembah berhala. Postur yang dimiliki ayah Dajjal adalah berbadan tinggi, gemuk, dan memiliki hidung seperti paruh burung sedangkan ibunya berbadan gemuk, kedua tangannya panjang dan memiliki payudara yang besar. Mereka adalah keturunan Yahudjah yang telah menikah selama 30 tahun tetapi belum dikaruniai seorang anak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Ayah dan Ibu Dajjal itu melewati pernikahannya selama 30 tahun tanpa melahirkan satu anak pun. Kemudian lahirlah dari mereka seorang anak laki-laki yang buta sebelah matanya. Ia menjadi orang yang paling berbahaya dan paling sedikit manfaatnya (bagi kedua orangtuanya dan bagi umat manusia). Kedua matanya, tertidur tetapi hatinya tetap terjaga.”

Berhala yang mereka sembah berupa patung sapi betina, namun bagaimana mungkin patung tersebut mengetahui bahwa mereka akan mendapatkan anak laki-laki seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut. Diceritakan pada suatu malam, kedua suami isteri ini seolah olah mendengar dari suara patung sapi yang mereka anggap sebagai tuhan mereka. Kemudian patung tersebut memberi tahukan kepada mereka bahwa sang patung telah meridhai mereka dan berkehendak memberikan mereka seorang anak. Sesungguhnya Jin dan Setan dapat melihat hal ghaib tapi tidak dengan manusia. Jin dan Setan dapat melihat apa yang ada dalam jasad manusia seakan-akan kedua mata mereka adalah sinar-X sehingga dapat melihat kandungan sejak awal. Namun Jin dan Setan tidak dapat mengetahui apa yang terjadi, mereka juga tidak tahu apakah janin itu laki-laki atau perempuan. Namun, Jin dan Setan mengetahui keinginan sepasang suami istri itu yang menginginkan seorang anak laki-laki, karena itu mereka memperdaya kedua manusia penyembah berhala itu seakan-akan mereka yang memberikan karunia anak dan meminta korban-korban sesembahan. Demikianlah yang diperbuat setan. Na’udzubillah min dzalik

dajjal laknatullah tetaplah memiliki 2 mata ,namun mata 1 nya buta dan dikeningnya ada tulisan "kafara" .

“Jika kita Islam sudah pasti muslim, oleh karena kewajiban kita bagi muslim harus percaya akan adanya Dajjal karena Rasulullah SAW pun telah menyebutkannya dalam Hadis yang menjelaskan akan adanya Dajjal di akhir zaman nanti. Akan tetapi ada satu hal yang harus kita pahami dan mengerti jangan pernah kita menyambungkan hal duniawi dengan takdir Allah SWT karena sangat dilarang dalam Islam,”

“Hal seperti ini memang sudah beberapa kali terjadi di dunia dari tahun 1634 sampai tahun 2011 telah beberapa bayi terlahir dengan keadaan bermata satu dan para ilmuwan juga telah mengklarifikasikan akan hal tersebut, bahwa itu adalah suatu kelainan sejak lahir yang disebut dengan nama ‘Cyclopia’ (atau disebut juga Synophthalmia, red),”

Menurut hasil penelitian para dokter rata-rata bayi yang terlahir dengan kelainan seperti itu disebabkan oleh tempat tinggal yang memiliki polusi udara tinggi. Oleh karena itu para ibu harus selalu menjaga kandungan yang ada di dalam janinnya agar kelak bayi lahir tidak memiliki kekurangan apapun. Dengan begitu, bayi dapat terhindar dari resiko kelainan sejak lahir.

Dalam ajaran Islam, Dajjal (dalam bahasa Arab : الدّجّال Al Dajjal “pembohong, penyamar”) yakni suatu makhluk jahat yang akan muncul sebelum Hari Kiamat. Dalam ajaran Kristiani, Dajal dikenali sebagai Antichrist. “Dajal” adalah kata Arab lazim, digunakan dalam kata “Nabi palsu”. Tetapi “Al-Dajal”, dengan rencana pasti, merujuk kepada “Si Penyamar”, satu pembohong spesifik di akhir masa.

Ia layak untuk di nota yakni dengan istilah Al-Masih Ad-Dajal (Bahasa Arab untuk “Si Masih Palsu”) adalah terjemahan berkait dari istilah Suryani “Meshiha Deghala”, dimana telah menjadi kosa kata lazim dari Timur Tengah selama lebih 400 tahun sebelum penurunan al-Quran, melalui Peshitta (di mana menggunakan istilah ini sebalik dari Greek “antichristos”).

Bagaimanakah sifat Dajjal ?

1. Dajjal memang tidak disebut dalam Al Quran, tetapi berbagai Hadis menguraikan sifat-sifat Dajjal, seperti berikut (di mana lazimnya dipercayai oleh Muslim).

2. Dia (Dajjal) adalah seorang pemuda yang rambutnya keriting, matanya menyembul keluar, menurut Rasulullah SAW, seperti Abdul Uzza bin Qathan. “Hendaknya di antara kamu bertemu dengannya,hendaklah membaca permulaan surat Al-Kahfi”(Sabda Rasulullah s.a.w). Sesungguhnya ia keluar dari jalan antara Syam dan Irak kemudian merusak kanan kirinya.

3. Dia akan fisikalnya berbentuk cacat, dan akan buta pada mata kirinya. Mata kanannya akan berkini tetapi ia akan jadi gelap (hitam). Dalam sebilangan Hadis dia (Dajjal) dirujuk sebagai satu-mata. Dia akan menunggang keledai putih dimana setiap langkah akan dibentang sebatu, akan makan api dan menghembus asap, terbang di atas tanah dan menyeberang laut.

4. Dajjal akan menipu para Imam Muslim, mengajar mereka bahawa Surga yaitu Neraka dan sebaliknya.

Huruf Arab kaf-fa-ra (kafara, bermaksud “kafir”) akan muncul pada dahinya dan akan dibaca oleh Muslim-sebenarnya samar- mereka boleh baca atau pun tidak.

5. Dajjal boleh melihat dan mendengar berbagai benda di banyak tempat pada masa yang sama.

6. Dajjal mempunyai kuasa untuk mengelirukan manusia.

7. Dajjal akan coba meletakkan manusia pada tahta Tuhan.

Suatu hari pada musim kemarau, Dajjal bakal bertanya, adakah kau mau api atau air? Jika anda memilih air itu bermakna yang anda minta adalah api, manakala jika Anda minta api yang diberikan yaitu air.

8. Dia akan mendakwa diri sebagai Tuhan dan akan menipu manusia dalam berfikir yakni dia telah bangun dari kematian. Salah satu orang khusus akan dia bunuh dan kemudian dia akan kini menghidupkan dia, sesudah itu Allah SWT akan menghidupkan dia. Dia takkan mempunyai kuasa ini lagi. Pada sumber lain (menurut kepada siri Akhirat oleh Anwar al-Awlaki), seorang lelaki beriman akan datang dari Madinah terus ke Dajjal, berdiri pada atas Uhud, dan dengan beraninya mendakwa Dajjal adalah Dajjal.

Kemudian, Dajjal akan menyoalnya, “Adakah Anda akan percayakan saya (yakni sayalah Tuhan) jika saya bunuh Anda dan kemudian menghidupkan Anda?”. Dajjal akan melakukan sedemikian dan selepas penghidupannya lelaki beriman akan berkata bahawa dia semakin tidak percayakan kepada ke-Tuhanan Dajjal.
9. Siapa yang menolak dan enggan percaya dengan Dajjal akan menderita kemarau dan keburukan manakala siapa yang menerimanya akan hidup dalam kehidupan senang.

10. Setengah tradisi Islam mengaitkan yakni Dajjal akan muncul pada Isfahan, dan dia akan membawa Yahudi Isfahan dan ramai bekas Muslim dan bekas Kristian menyokongnya.

11. Dajjal tidak akan pernah memasuki Makkah atau Madinah.

12. Imam Mahdi akan menentangnya dengan nama Islam.

13. Dajjal akan dibunuh oleh Nabi Isa AS, dekat pagar Ludd, di mana ‘zionis’ Israel berdiri saat ini.

“Dan yang terpenting untuk kita saat ini adalah, walaupun berbagai pihak berpendapat bahwa berita dan gambar tersebut adalah kebohongan besar yang sengaja dihembus-hembuskan untuk kepentingan tertentu. Tetapi tak sedikit yang percaya bahwa hal itu memang nyata terjadi. Namun apapun perdebatan itu, bila nantinya Dajjal tersebut muncul di muka Bumi ini maka tiada salahnya manusia untuk lebih introspeksi diri dan mempersiaokan diri bersama. Dan, tampaknya Dajjal nantinya akan tetap terlahir di dunia ini hanya tiada yang bisa memastikan kapan ?

“Namun menurut Hadis sudah ada tuntunan yang dapat melepaskan diri dan berlindung dari adanya Dajjal tersebut. Nabi Muhammad SAW mengingatkan para pengikutnya untuk membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Kahfi sebagai perlindungan dari Dajjal. Baginda juga mengingatkan para pengikutnya untuk berdoa, “Ya Allah! Aku berlindung dengan-Mu dari musibah Dajjal.” Baginda juga menyatakan terdapat tiada musibah yang lebih hebat,”

Yang terpenting bagi kita dijaman sekarang agar terhindar dari berbagai macam fitnah, hingga puncaknya fitnah yang sangat besar dengan kedatangan dajjal al masih, perteballah iman kita, laksanakan shalat, shalat sunat, menhdupkan sunah, djikir pagi - petang , membaca al-quran dengan artinya, membaca al kahfi agar terhindar dari fitnah dajjal, melaksanakan infaq shodaqoh amal jariyah.


Wawlahulam bisawab



sumber : actual.